"Ada sebuah cerita yg ingin aku sampaikan dari dulu, tapi aku masih ragu-ragu, tapi dlm kesempatan ini aku akan menceritakannya, ceritanya begini.
Ada seorang jama'ah yg rutin hadir dlm pengajian ini, tapi sepertinya Selama Ramadhan ini ia tdk datang, Insyaallah dia adalah orang Shaleh.
Dia memiliki jenggot yg tebal, suatu hari aku melihatnya telah mencukur jenggotnya lebih dari biasanya, terlalu tipis, bahkan hampir habis tercukur, terbesit dalam fikiranku untuk mengritiknya :
"Knp kamu mencukur jenggotmu seperti itu.?kalo emang dari dulu jenggotmu udah tipis atau gak ada sama sekali tidak masalah.. "
Kritikan itu masih belum aku utarakan, masih berupa bisikan dlm hati. (Tak berselang lama setelah itu)aku pergi ke tukang cukur untuk merapikan jenggotku, ternyata Allah ingin menegurku, tanpa disengaja Tukang cukur itu mencukur jenggotku sampai habis. aku langsung teringat apa yg aku fikirkan mengenai salah satu jama'ah yg aku kritik itu, dia skrng sedang tdk hadir, tapi insyallah besok aku akan menemuinya dan meminta maaf.
Tiba-tiba Syaikh Buty menangis, dgn suara lirih dan terpatah-patah beliau berkata :
"wahai para saudaraku...kita tidak boleh mengkritik orang lain(seperti ini), apalagi kritikan dalam hati. itu bagian dari suudhon pada hamba Allah. kalau memang ada kejanggalan silahkan tanya kepada yang bersangkutan, konfirmasi, bicara baik-baik, jangan seperti diriku ini, aku merasa dengan mengkritik dia aku sudah berbuat baik. aku berdoa semoga Allah menganugerahi kita adab dan akhlak yang baik saat memperlakukan hamba2-Nya”.
Akhlak memang menunjukkan kelas seseorang yg sebenarnya. lihatlah beliau Syaikh Buty, hanya krn mempunyai kritik buruk atas seseorng dalam hatinya beliau sudah merasa sangat berdosa dan bersalah, bahkan demi itu beliau rela meminta maaf.
Dan silahkan bandingkan beliau dengan kita..
اللهمَّ صلِّ على سيِّدنا محمَّد وعلى آلِ سيِّدنا محمَّد
Source: @ismaelalkholilie

Tidak ada komentar:
Posting Komentar